Ki Dalang Wawan Ajen
PEWARTANEWS.COM, Di padang hijau kehidupan, ketika Pandawa bermain bola, bukan sekadar kaki mengejar si kulit bundar, melainkan jiwa mengejar amanah yang dititipkan Sang Maha Pemilik Langit dan Bumi.
Yudhistira mengajarkan kejujuran sebagai wasit batin, Bima mengubah tenaga menjadi pengabdian, Arjuna memanah gawang dengan ketepatan hati, Nakula menghadirkan keindahan akhlak, dan Sadewa menjaga kebeningan nurani.
Di tengah gelanggang itu, gema “SIUUUUU…” menjelma bukan hanya sorak kemenangan, melainkan tasbih ikhtiar yang melesat ke langit, seolah mengabarkan bahwa manusia hanya diwajibkan berjuang dengan sungguh-sungguh, sedangkan keputusan akhir berada dalam kehendak Tuhan Yang Mahabijaksana.
Bukankah setiap jiwa hanya memperoleh apa yang diusahakannya, dan setiap amal akan kembali kepada pemiliknya sebagai cahaya yang tidak pernah sia-sia?
Cristiano Ronaldo laksana Arjuna yang telah berkali-kali menembus benteng sejarah. Tubuhnya mungkin telah disentuh usia, kekuatannya pernah diuji luka, namun nyala tekadnya tetap menyala seperti api yang tidak padam diterpa angin zaman.
Ia berlari tanpa lelah mencari ruang, menanti umpan yang kadang tak pernah datang, sebagaimana seorang hamba yang terus mengetuk pintu rahmat meski jawaban-Nya hadir menurut waktu yang telah ditetapkan.
Kemenangan bukan sekadar mengangkat piala, melainkan kemampuan menjaga martabat ketika dunia mengukur manusia hanya dari hasil akhir.
Di sanalah kemuliaan seorang pejuang: tidak mengeluh kepada takdir, tidak menyalahkan keadaan, melainkan berdiri tegak dengan hati yang ridha, sebab Alloh mencintai hamba yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya.
Mereka yang berhati jernih mengetahui bahwa kebesaran tidak selalu diukur oleh angka. Ronaldo mungkin bukan lagi nomor satu dalam daftar usia emas, tetapi sejarah menulis namanya dengan tinta yang tak mudah dihapus waktu. Ia telah menghadiahkan tiga mahkota bagi Portugal, membuka gerbang kejayaan yang sebelumnya belum pernah tersentuh bangsanya.
Maka kekalahan di satu panggung tidak akan mengecilkan gunung pengabdian yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. Sebab manusia tidak dimuliakan oleh tepuk tangan, melainkan oleh ketulusan amal yang dilakukan tanpa henti. Seperti pohon yang kokoh, akarnya menghunjam dalam keikhlasan, sementara buahnya dipetik oleh generasi yang datang kemudian.
Bahkan ketika dunia ramai memperdebatkan siapa yang terbesar, penghormatan sejati justru lahir dari mereka yang memahami nilai kesetiaan. Sebagaimana seseorang yang tetap memuliakan sahabatnya ketika badai datang, demikian pula penghargaan yang tetap diberikan kepada seorang atlet yang telah mengabdikan hidupnya.
Menghormati jasa adalah adab para insan berakal, sebab siapa yang tidak pandai berterima kasih kepada sesama, niscaya ia pun belum sempurna mensyukuri karunia Tuhannya.
Pandawa tidak pernah meninggalkan saudara seperjuangan hanya karena satu kekalahan; mereka memahami bahwa persatuan, kesetiaan, dan penghormatan adalah mahkota yang lebih indah daripada emas kemenangan.
Di akhir pertandingan, lapangan menjadi sunyi. Bola berhenti bergulir, sorak penonton perlahan menghilang, piala hanya tinggal benda yang akan berdebu dimakan zaman. Namun amal, akhlak, dan ketulusan tetap berjalan menuju hadapan Tuhan sebagai saksi yang tak pernah berdusta.
Ronaldo berkata bahwa ia tidak menyesal, sebab telah memberikan yang terbaik bagi negerinya. Kalimat itu menjelma suluk kehidupan: orang yang ikhlas tidak menghitung apa yang hilang, tetapi mensyukuri apa yang telah diamanahkan kepadanya. Sebab sesungguhnya bersama kesulitan selalu hadir kemudahan, dan setelah setiap perjuangan akan ada ketenteraman bagi hati yang ridha kepada ketetapan-Nya.
Maka ketika Pandawa kembali bermain bola di padang semesta, kita belajar bahwa kehidupan bukan perlombaan untuk menjadi paling dipuja, melainkan perjalanan untuk menjadi paling tulus di hadapan Allah.
Jadikan pikiran bersih laksana embun yang memantulkan cahaya langit, jadikan hati selembut doa seorang ibu, jadikan lisan hanya mengucapkan kebenaran yang menyejukkan, dan jadikan setiap langkah sebagai ibadah yang menghidupkan bumi dengan kasih sayang.
Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika nama diteriakkan manusia, melainkan ketika ruh dipanggil pulang dalam keadaan tenang, lalu disambut dengan panggilan penuh cinta: “Wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
Itulah SIUUUU yang sesungguhnya, gema jiwa yang kembali kepada Sang Maha Kekal dengan kesucian, keikhlasan, dan cinta yang abadi.
Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi
7 Juli 2026
