Oleh: Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.
PEWARTANEWS.COM, Kota Bandung – Artikel ini terinspirasi dari pemberitaan Tribun Jabar edisi Minggu, 5 Juli 2026 berjudul “Direaktivasi 17 September 2026, Bandara Husein Bandung Akan Melayani 8 Rute Penerbangan”. Informasi mengenai rencana kembali beroperasinya Bandara Husein Sastranegara menjadi titik tolak untuk melihat persoalan ini dari perspektif yang lebih luas, tidak semata sebagai isu transportasi udara, tetapi sebagai momentum strategis bagi transformasi pembangunan Jawa Barat.
Apabila rencana tersebut terealisasi, 17 September 2026 berpotensi menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pembangunan Jawa Barat. Pada tanggal tersebut, Bandara Husein Sastranegara direncanakan kembali beroperasi dan melayani sejumlah rute penerbangan domestik. Tentu, ini merupakan kabar yang menggembirakan bagi masyarakat, pelaku usaha, industri pariwisata, dan dunia investasi.
Namun demikian, apabila reaktivasi Bandara Husein hanya dipahami sebagai dibukanya kembali layanan penerbangan domestik, maka kita sedang melihat persoalan ini dari sudut pandang yang terlalu sempit. Sesungguhnya, terdapat peluang yang jauh lebih besar dan lebih strategis yang harus mampu ditangkap oleh seluruh pemangku kepentingan.
Reaktivasi Bandara Husein semestinya dimaknai sebagai momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah, memperkuat daya saing pariwisata, mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif, meningkatkan investasi, memperluas perdagangan, mengembangkan industri MICE, memperkuat identitas budaya Sunda, serta mendorong lahirnya ekosistem pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Bandara pada abad ke-21 bukan lagi sekadar tempat pesawat lepas landas dan mendarat. Bandara telah berkembang menjadi economic gateway, tourism gateway, creative economy gateway, investment gateway, bahkan knowledge gateway yang menghubungkan manusia, barang, jasa, investasi, inovasi, teknologi, dan kebudayaan.
Dengan cara pandang tersebut, bandara tidak lagi sekadar menjadi simpul transportasi udara, melainkan menjadi gerbang utama bagi pertumbuhan ekonomi, inovasi, budaya, dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Urgensi Transformasi Reaktivasi Bandara Husein
Sebagai pertanyaan strategisnya bukan lagi, “Apakah Bandara Husein kembali dibuka?”, melainkan “Sudahkah Jawa Barat memiliki grand design untuk mengoptimalkan seluruh peluang ekonomi yang akan lahir dari reaktivasi tersebut?” Inilah cara berpikir besar (big mindset) yang harus mulai dibangun.
Urgensi transformasi tersebut semakin kuat apabila melihat posisi strategis sektor pariwisata dalam perekonomian nasional. Publikasi Tourism Satellite Account (TSA) Indonesia 2022–2024 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi nyata terhadap nilai tambah, Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, serta menggerakkan berbagai industri pendukung seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, perdagangan, jasa kreatif, hingga seni pertunjukan. TSA juga menegaskan bahwa pariwisata memiliki keterkaitan ekonomi yang luas (forward and backward linkage) sehingga setiap peningkatan aktivitas wisata akan menghasilkan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional.
Momentum ini juga didukung oleh tren pemulihan sektor pariwisata nasional yang semakin kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Mei 2026 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,38 juta kunjungan, meningkat 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 106,16 juta perjalanan, tumbuh 8,69 persen (year-on-year), sedangkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang nasional mencapai 50,76 persen, meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap sektor pariwisata terus meningkat dan menjadi momentum yang tepat bagi reaktivasi Bandara Husein Sastranegara.
Bandara Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Di banyak negara maju, keberhasilan sebuah bandara tidak lagi hanya diukur dari jumlah pesawat atau jumlah penumpang, tetapi dari besarnya nilai tambah ekonomi yang dihasilkan terhadap wilayah sekitarnya. Bandara mampu mendorong tumbuhnya hotel, restoran, pusat perdagangan, kawasan industri, pusat logistik, pusat konvensi (MICE), kawasan ekonomi kreatif, pusat kuliner, UMKM, hingga investasi baru.
Pariwisata sendiri telah menjadi salah satu sektor strategis dunia. Menurut UN Tourism, sektor pariwisata merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi global, pencipta lapangan kerja, dan pendorong pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik melalui publikasi Tourism Satellite Account menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata memberikan kontribusi ekonomi yang luas melalui konsumsi wisatawan, penciptaan lapangan kerja, serta keterkaitannya dengan lebih dari seratus subsektor ekonomi. Kontribusi tersebut tidak hanya berasal dari hotel dan transportasi, tetapi juga dari kuliner, perdagangan, seni pertunjukan, kerajinan, fesyen, hingga ekonomi kreatif.
Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Pemerintah menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu domestic engine of growth sekaligus sumber devisa nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi pada konektivitas udara memiliki peluang besar untuk menghasilkan dampak ekonomi yang berlipat apabila diintegrasikan dengan pengembangan destinasi, ekonomi kreatif, perdagangan, dan investasi daerah.
Dengan demikian, keberhasilan Bandara Husein seharusnya diukur melalui indikator yang lebih komprehensif, seperti peningkatan jumlah wisatawan, peningkatan length of stay, kenaikan average spending, peningkatan okupansi hotel, bertambahnya transaksi UMKM, meningkatnya investasi, bertambahnya penyelenggaraan MICE, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Paradigma pembangunan harus bergeser dari traffic oriented menjadi economic impact oriented.
Jawa Barat Memiliki Modal yang Sangat Besar
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan modal pariwisata dan ekonomi kreatif paling lengkap di Indonesia. Provinsi ini memiliki bentang alam pegunungan, pantai, geopark, desa wisata, warisan sejarah, budaya Sunda yang kuat, kuliner yang beragam, industri fesyen, industri kreatif, musik, seni pertunjukan, pendidikan tinggi, hingga ekosistem UMKM yang sangat dinamis.
Bandung sendiri selama puluhan tahun dikenal sebagai kota pendidikan, kota kreatif, kota kuliner, kota belanja, dan kota konferensi. Potensi tersebut akan semakin kuat apabila didukung oleh konektivitas udara yang lebih baik.
Reaktivasi Bandara Husein sesungguhnya membuka peluang untuk membangun Integrated Airport-Based Tourism and Creative Economy Ecosystem, yaitu sebuah model pembangunan yang mengintegrasikan bandara dengan seluruh ekosistem pariwisata, perdagangan, investasi, budaya, teknologi, dan ekonomi kreatif dalam satu sistem pelayanan yang saling terhubung.
Konsep ini bukan hanya berbicara mengenai transportasi udara, tetapi mengenai bagaimana setiap wisatawan yang tiba di Bandung mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Jawa Barat.
Dari Quantity Tourism Menuju High Value Tourism
Tren pemulihan pariwisata Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Data terbaru BPS mencatat bahwa kunjungan wisatawan mancanegara pada Mei 2026 mencapai sekitar 1,38 juta kunjungan, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun sebelumnya. Menariknya, wisatawan asal Malaysia menjadi pasar terbesar, disusul Australia dan Singapura. Fakta ini memperkuat argumentasi bahwa Jawa Barat memiliki peluang besar mengembangkan kembali konektivitas internasional, khususnya menuju Malaysia dan Singapura sebagai pasar prioritas
Selama bertahun-tahun keberhasilan pariwisata sering diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Paradigma tersebut sudah saatnya diperbarui. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap wisatawan bisa tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak uang, menikmati lebih banyak atraksi, membeli lebih banyak produk lokal, menginap lebih lama di hotel, menikmati kuliner lokal, mengunjungi desa wisata, menyaksikan pertunjukan budaya, menghadiri festival, dan akhirnya kembali lagi pada kesempatan berikutnya.
Data BPS juga menunjukkan bahwa Malaysia masih menjadi negara asal wisatawan mancanegara terbesar ke Indonesia, disusul Australia dan Singapura. Hal ini memberikan peluang yang sangat besar bagi Bandung untuk kembali membuka konektivitas internasional menuju kawasan ASEAN. Kedekatan geografis, kesamaan budaya, serta waktu tempuh yang relatif singkat menjadi keunggulan kompetitif yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan pasar wisatawan berkualitas (high value tourists).
Inilah konsep High Value Tourism yang saat ini berkembang di berbagai negara. Wisatawan berkualitas akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengejar jumlah kunjungan. Karena itu, Bandung tidak cukup hanya menjadi kota tujuan akhir pekan, tetapi harus berkembang menjadi kota pengalaman (experience city) yang membuat wisatawan ingin tinggal lebih lama dan kembali berkunjung.

Membangun Bandung sebagai Kota Pengalaman Berkelas Dunia
Kedekatan geografis Bandung dengan Jakarta, didukung akses jalan tol, kereta cepat, serta rencana reaktivasi Bandara Husein, memberikan keunggulan kompetitif untuk menarik wisatawan dari kawasan ASEAN. Apalagi Malaysia dan Singapura secara konsisten termasuk negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia. Dengan strategi pemasaran yang tepat, Bandung berpeluang menjadi secondary gateway bagi wisatawan internasional yang mencari pengalaman budaya, kuliner, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif.
Keunggulan sebuah destinasi tidak lagi ditentukan oleh banyaknya objek wisata yang dimiliki, melainkan oleh kualitas pengalaman (visitor experience) yang dirasakan wisatawan. Oleh karena itu, Bandung harus bertransformasi menjadi Bandung Experience City, yakni kota yang mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lengkap, nyaman, aman, autentik, dan berkesan sejak wisatawan turun dari pesawat hingga kembali ke daerah asalnya.
Wisatawan masa kini tidak hanya ingin berfoto di tempat-tempat populer. Mereka ingin menikmati pengalaman budaya yang otentik, berinteraksi dengan masyarakat lokal, mencicipi kuliner khas, mengikuti festival budaya, menyaksikan pertunjukan seni, belajar memainkan angklung, mengenal wayang golek, mengunjungi desa wisata, menikmati kopi dan teh khas Jawa Barat, hingga membeli produk kreatif yang memiliki cerita dan identitas lokal. Dengan kata lain, pariwisata masa depan tidak lagi menjual destinasi, tetapi menjual pengalaman, cerita, nilai budaya, dan emosi.
Karena itu, Jawa Barat perlu mengembangkan paket wisata tematik yang terintegrasi, meliputi wisata budaya, wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, wisata pendidikan, wisata kesehatan (medical and wellness tourism), wisata olahraga, wisata kuliner, wisata kopi, wisata teh, wisata kreatif, wisata musik, wisata fesyen, wisata belanja, wisata desa, hingga wisata MICE. Semakin beragam pilihan pengalaman yang ditawarkan, semakin panjang lama tinggal wisatawan dan semakin besar pula nilai transaksi ekonomi yang tercipta.
Pelayanan Terpadu Berkelas Dunia
Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein tidak hanya ditentukan oleh kelancaran penerbangan, tetapi juga oleh kualitas pelayanan yang diterima wisatawan. Di era persaingan global, pelayanan atau hospitality menjadi faktor utama dalam membangun citra destinasi.
Bandung harus menghadirkan sistem World Class Integrated Hospitality Services, yaitu pelayanan yang berorientasi pada prinsip mudah, murah, cepat, aman, nyaman, ramah, bersih, inklusif, adaptif, dan terintegrasi.
Seluruh pelayanan harus dirancang dalam konsep One Stop Tourism Services, sehingga wisatawan dapat memperoleh seluruh kebutuhan perjalanan melalui satu sistem terpadu. Mulai dari informasi destinasi, pemesanan hotel, transportasi, tiket atraksi wisata, jadwal pertunjukan budaya, restoran, pusat kuliner, pusat belanja, hingga layanan pengaduan dan bantuan darurat.
Transformasi digital tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Laporan Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 yang disusun bersama oleh Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian PPN/Bappenas menegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia bertumpu pada pengembangan quality tourism, pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kualitas layanan, keberlanjutan, dan inovasi. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan Bandung untuk membangun ekosistem pariwisata yang cerdas (smart tourism ecosystem) dan berdaya saing global.
Transformasi digital harus diwujudkan melalui Digital Tourism Super Apps yang mengintegrasikan seluruh layanan tersebut dalam satu aplikasi. Wisatawan cukup menggunakan satu platform untuk memperoleh informasi, melakukan reservasi, pembayaran digital, navigasi perjalanan, penerjemah bahasa, rekomendasi destinasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga memperoleh informasi lalu lintas secara waktu nyata (real time).
Pelayanan cepat tanggap (Quick Response Tourism Services) juga harus menjadi standar baru. Seluruh pengaduan wisatawan harus dapat ditangani secara profesional melalui pusat layanan 24 jam yang terhubung dengan pemerintah daerah, kepolisian, rumah sakit, operator transportasi, pengelola destinasi, hotel, dan pelaku industri pariwisata.
Bandung Harus Aman, Bersih, dan Nyaman
Kesan pertama wisatawan akan menentukan citra sebuah kota. Oleh sebab itu, implementasi Sapta Pesona harus dihadirkan kembali secara nyata, bukan sekadar menjadi slogan. Bandung harus menjadi kota yang aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan meninggalkan kenangan yang baik bagi setiap wisatawan.
Upaya tersebut harus diwujudkan melalui penataan kawasan bandara dan kota secara menyeluruh, meliputi transportasi yang lancar, bebas kemacetan, bebas pungutan liar, bebas premanisme, kawasan yang bersih dari sampah, ruang publik yang nyaman, trotoar yang ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas, serta pelayanan publik yang profesional.
Selain itu, perlu dibangun Integrated Tourism Safety System yang mencakup Pos Keamanan Terpadu, Tourist Police, Pos Kesehatan Terpadu, ambulans siaga, jalur evakuasi yang jelas, sistem mitigasi bencana, Early Warning System, CCTV berbasis AI, serta Tourism Command Center yang mampu memantau kondisi keamanan, kepadatan lalu lintas, dan pelayanan wisata secara waktu nyata. Pariwisata modern tidak hanya menjual keindahan, tetapi juga memberikan rasa aman, perlindungan, dan kepastian pelayanan bagi setiap wisatawan.
Penguatan Ekonomi Kreatif, Perdagangan, dan Industri
Keunggulan Jawa Barat tidak hanya terletak pada kekayaan alam dan budayanya, tetapi juga pada kekuatan ekonomi kreatif. Industri kuliner, fesyen, kriya, musik, seni pertunjukan, desain, film, fotografi, hingga aplikasi digital merupakan subsektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas pariwisata. Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar pula pengeluaran mereka terhadap produk dan jasa ekonomi kreatif lokal. Oleh karena itu, strategi pembangunan pariwisata harus diarahkan untuk memperpanjang length of stay dan meningkatkan average spending, bukan semata mengejar jumlah kunjungan.
Reaktivasi Bandara Husein juga harus menjadi penggerak tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di Kota Bandung dan Jawa Barat. Bandara harus terkoneksi secara efektif dengan kawasan perdagangan, hotel, restoran, pusat kuliner, sentra UMKM, pusat fesyen, pusat kriya, galeri seni, kawasan heritage, kawasan industri kreatif, pusat inovasi, kawasan pendidikan, rumah sakit bertaraf internasional, kawasan MICE, serta pusat perbelanjaan modern termasuk Pasar Baru Trade Center.
Keberadaan bandara harus mampu meningkatkan kunjungan ke pusat-pusat ekonomi tersebut sehingga terjadi peningkatan omzet usaha, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta bertambahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sarana transportasi dan jalur transportasi harus lebih tertata dan nyaman bagi para wisatawan.
Lebih jauh lagi, Bandung perlu memperkuat posisinya sebagai Creative Economy Hub Indonesia. Produk-produk ekonomi kreatif seperti fesyen, kuliner, Kesehatan dan kebugaran, kriya, desain, musik, film, fotografi, seni pertunjukan, animasi, gim, penerbitan, serta karya berbasis budaya Sunda harus memperoleh ruang promosi yang lebih luas, termasuk melalui etalase permanen di kawasan bandara.
MICE, Event Internasional, dan Diplomasi Budaya
Berbagai studi menunjukkan bahwa wisatawan MICE memiliki rata-rata pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan wisatawan rekreasi karena memanfaatkan akomodasi, transportasi, restoran, pusat perbelanjaan, serta berbagai layanan pendukung lainnya. Oleh sebab itu, penguatan Bandung sebagai kota MICE akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap hotel, restoran, UMKM, industri kreatif, dan perdagangan lokal.
Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota konferensi dunia sejak penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Modal historis tersebut harus kembali dimanfaatkan dengan memperkuat sektor MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions). Kalender kegiatan internasional harus disusun secara terpadu agar setiap bulan terdapat agenda unggulan, seperti festival budaya Sunda, festival multikultu, festival kuliner, pameran ekonomi kreatif, konferensi akademik, pertunjukan seni, kejuaraan olahraga, wisata Kesehatan, hingga pameran investasi.
Dalam konteks ini, budaya Sunda harus ditempatkan sebagai kekuatan utama diplomasi budaya. wayang golek, angklung, jaipongan, pencak silat, benjang, seni tari, sastra, prosesi adat budaya Sunda, kuliner, arsitektur tradisional, pengobatan tradisional, serta berbagai ekspresi budaya lainnya perlu dikemas secara kreatif sehingga mampu menjadi identitas global Jawa Barat.
Bandara Husein harus menjadi West Java Cultural Gateway, yakni gerbang pertama yang memperkenalkan wajah budaya Sunda kepada setiap tamu yang datang, apa yang yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan oleh wisatawan. Sejak berada di terminal kedatangan, wisatawan harus langsung merasakan atmosfer budaya Sunda yang kuat baik interior maupun eksterior bandara, melihat, mendengar dan merasakan pengalaman wisatawan melalui pertunjukan seni, musik tradisional, pameran kriya, kuliner khas, serta informasi destinasi budaya yang terintegrasi.
Dengan demikian, setiap wisatawan tidak hanya datang ke Bandung untuk berlibur, tetapi juga membawa pulang pengalaman budaya yang mendalam, memperkuat citra Jawa Barat sebagai pusat kebudayaan, kreativitas, dan inovasi Indonesia.

Kolaborasi Hexahelix: Fondasi Transformasi Jawa Barat
Transformasi besar tidak pernah lahir dari kerja satu institusi. Reaktivasi Bandara Husein harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatan Hexahelix (meminjam istilah Anang Sutono dosen senior Poltekpar NHI Bandung), yaitu sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan political will sebagai penggerak utama perubahan. Konsep ini memperluas model Pentahelix dengan menempatkan kepemimpinan, keberanian politik, dan kesinambungan kebijakan sebagai faktor penentu keberhasilan transformasi.
Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus akselerator pembangunan. Dunia usaha menjadi motor investasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja. Akademisi menyediakan riset, pengembangan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Komunitas menjadi penjaga nilai-nilai budaya dan penggerak partisipasi masyarakat. Media membangun citra, edukasi publik, dan promosi destinasi. Sementara itu, political will memastikan seluruh program berjalan secara konsisten dengan ketersedian anggaran yang memadai, dukungan lintas sektor, dan berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut harus diwujudkan dalam sebuah West Java Tourism and Creative Economy Council, yaitu forum strategis yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan untuk menyusun arah kebijakan, melakukan evaluasi berkala, serta memastikan setiap program dengan ketersedian anggaran dan saling terintegrasi.
Peran Strategis Politeknik Pariwisata NHI Bandung
Di tengah percepatan transformasi Ekonomi menuju Indonesia Emas 2045, Politeknik Pariwisata NHI Bandung memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia, riset, inovasi, dan kebijakan pariwisata Indonesia. Sebagai perguruan tinggi vokasi unggulan di bidang pariwisata, Politeknik Pariwisata NHI Bandung perlu menjadi strategic knowledge partner bagi Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kementerian terkait, pelaku industri, dan masyarakat.
Transformasi tersebut memerlukan dukungan riset dan inovasi yang kuat. Dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, termasuk RPJMN dan publikasi Tourism Satellte Account (TSA) yang disusun oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penyusunan kebijakan berbasis data (evidence-based policy) menjadi salah satu prasyarat utama untuk meningkatkan daya saing sektor pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat riset, inovasi, pengembangan SDM, dan pendampingan kebijakan.
Peran tersebut dapat diwujudkan melalui penyusunan master plan pariwisata, kajian kebijakan, pengembangan destinasi, pendampingan desa wisata, inkubasi ekonomi kreatif, digitalisasi UMKM, sertifikasi kompetensi, pelatihan SDM, penguatan implementasi Sapta Pesona, penyelenggaraan forum ilmiah internasional, hingga pengembangan model pelayanan wisata berbasis teknologi digital. Lebih jauh lagi, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan konseptor, inovator, pemimpin, dan agen perubahan yang mampu menjawab tantangan pembangunan pariwisata masa depan.
Dari Smart Tourism Menuju Smart Destination
Transformasi digital harus berkembang dari sekadar digitalisasi layanan menuju pembangunan Smart Destination Ecosystem. Artinya, seluruh sistem transportasi, akomodasi, destinasi, pusat kuliner, pusat perdagangan, rumah sakit, layanan keamanan, pusat informasi wisata, hingga sistem pembayaran harus terhubung dalam satu ekosistem digital yang terpadu.
Penggunaan Artificial Intelligence, Big Data Analytics, Internet of Things, Digital Twin, Geographic Information System, serta predictive analytics memungkinkan pemerintah memahami pola perjalanan wisatawan, memprediksi kepadatan pengunjung, mengoptimalkan pengelolaan destinasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, teknologi juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat promosi internasional melalui pemasaran digital, virtual tourism, immersive experience, dan konten kreatif berbasis budaya Sunda.
Arah kebijakan tersebut sejalan dengan Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 yang disusun bersama oleh Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian PPN/Bappenas. Dokumen tersebut menegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia diarahkan pada quality tourism, transformasi digital, keberlanjutan, inovasi, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan daya saing destinasi. Dengan demikian, reaktivasi Bandara Husein harus menjadi bagian dari transformasi pariwisata nasional, bukan sekadar pengoperasian kembali fasilitas transportasi udara.
Rekomendasi Strategis
Agar reaktivasi Bandara Husein benar-benar menjadi akselerator pembangunan, beberapa langkah strategis perlu segera diwujudkan.
Pertama, menyusun Grand Design Bandung Air Gateway 2045 sebagai peta jalan pengembangan bandara, konektivitas, pariwisata, perdagangan, investasi, ekonomi kreatif, dan transformasi digital yang terintegrasi.
Kedua, membangun Integrated Smart Tourism Ecosystem yang menghubungkan bandara dengan hotel, restoran, pusat kuliner, pusat perdagangan, kawasan industri kreatif, rumah sakit, destinasi wisata, transportasi publik, serta layanan pemerintahan dalam satu platform digital. Lagi-lagi ini harus ditunjang dengan ketersedian anggaran yang optimal sesuai dengan peruntukan program yang berkualitas dan tepat sasaran.
Ketiga, menjadikan Bandara Husein sebagai West Java Cultural Gateway, yaitu etalase budaya Sunda melalui pertunjukan seni, pameran kriya, promosi kuliner, produk ekonomi kreatif, Kesehatan, serta informasi destinasi se Jawa Barat sejak wisatawan pertama kali tiba.
Keempat, memperkuat implementasi Sapta Pesona dan Sadar Wisata sebagai gerakan masyarakat sehingga Bandung tampil sebagai kota yang bersih, tertib, aman, ramah, indah, dan nyaman.
Kelima, membangun Bandung Tourism Command Center yang mengintegrasikan pelayanan informasi, keamanan, kesehatan, lalu lintas, mitigasi bencana, dan pengaduan wisatawan selama 24 jam.
Keenam, membentuk Tourism Rapid Response Team, yaitu tim lintas sektor yang mampu memberikan pelayanan cepat terhadap berbagai kondisi darurat, mulai dari kesehatan, keamanan, kecelakaan, kehilangan barang, hingga bantuan informasi bagi wisatawan. Bandung terbebas dari ego sektoral.
Ketujuh, mempercepat pembukaan rute internasional, khususnya menuju pasar prioritas Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, sebelum diperluas ke negara-negara lain yang memiliki potensi pasar besar. Ketersedian akses insfrastruktur dari Bandara Husen ke destinasi wisata di berbagai daerah di Jawa Barat
Kedelapan, mengembangkan West Java Creative Marketplace, yaitu pusat promosi fisik dan digital bagi produk UMKM, fesyen, kuliner, kriya, seni pertunjukan, dan suvenir khas Jawa Barat agar mampu menembus pasar nasional dan global.
Kesembilan, menetapkan indikator keberhasilan yang tidak hanya berbasis jumlah penumpang, tetapi juga peningkatan length of stay, average spending, tingkat hunian hotel, nilai transaksi UMKM, investasi, ekspor ekonomi kreatif, kepuasan wisatawan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penutup
Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari sebuah transformasi besar. Keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak pesawat yang mendarat atau berapa banyak penumpang yang datang. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa besar nilai tambah ekonomi yang tercipta, seberapa luas lapangan kerja yang dihasilkan, seberapa kuat budaya Sunda menjadi identitas global, seberapa tinggi daya saing Jawa Barat meningkat, dan seberapa besar kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan.
Momentum ini harus menjadi titik awal lahirnya paradigma baru pembangunan Jawa Barat, yaitu pembangunan yang bertumpu pada inovasi, adaptasi, kolaborasi, teknologi, dan implementasi keberlanjutan, dan kearifan lokal. Bandara Husein harus diposisikan sebagai pusat integrasi pariwisata, perdagangan, investasi, ekonomi kreatif, pendidikan, Kesehatan, olahraga, sejarah, religi, dan kebudayaan, sehingga mampu menciptakan multiplier effect yang menjangkau seluruh wilayah Jawa Barat.
Apabila dikelola dengan visi yang besar, kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang konsisten, ketersedian anggaran, serta kolaborasi Hexahelix yang efektif, reaktivasi Bandara Husein akan menjadi salah satu katalis terpenting dalam mempercepat transformasi ekonomi Jawa Barat. Dari Bandung akan lahir sebuah model pembangunan yang membuktikan bahwa investasi pada konektivitas, budaya, kreativitas, dan kualitas pelayanan mampu melahirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperkuat identitas bangsa, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein tidak boleh diukur hanya dari bertambahnya frekuensi penerbangan atau jumlah penumpang. Indikator keberhasilannya harus mencakup peningkatan kontribusi terhadap PDB daerah, meningkatnya investasi, bertambahnya jumlah wisatawan berkualitas, meningkatnya tingkat hunian hotel, tumbuhnya transaksi perdagangan dan UMKM, berkembangnya industri kreatif, meningkatnya devisa, bertambahnya lapangan kerja, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Inilah esensi pembangunan pariwisata berkualitas (quality tourism) yang kini menjadi arah kebijakan nasional.
Berbagai data tersebut memperlihatkan bahwa permintaan terhadap perjalanan wisata terus meningkat. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi memastikan bahwa setiap wisatawan menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih besar melalui peningkatan lama tinggal (length of stay), peningkatan pengeluaran (average spending), meningkatnya tingkat hunian hotel, bertambahnya transaksi UMKM, berkembangnya ekonomi kreatif, meningkatnya investasi, serta terciptanya lapangan kerja baru. Paradigma inilah yang menjadi inti dari pembangunan quality tourism sebagaimana diarahkan dalam kebijakan nasional.
Pada akhirnya, Bandara Husein bukan sekadar gerbang transportasi udara. Bandara ini harus menjadi gerbang peradaban baru Jawa Barat, gerbang percepatan transformasi ekonomi, gerbang yang menghubungkan budaya dengan dunia, kreativitas dengan pasar global, teknologi dengan pelayanan publik, serta kearifan lokal Sunda dengan cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya: bukan hanya membangun bandara, melainkan membangun masa depan Jawa Barat yang lebih maju, berdaya saing, berbudaya, beradab dan berkelanjutan.
Keterangan penulis
Dr. Wawan Gunawan, S,Sn.,MM
Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, budayawan, akademisi, peneliti, praktisi seni dan pencipta Wayang Ajen Diversity
