PEWARTANEWS.COM, – Kelompok Tani Ngudi Mulyo di Padukuhan Jirak, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil mencatat produktivitas gabah kering giling (GKG) sebesar 7,84 ton per hektare melalui penerapan Sistem Irigasi Ramah Lingkungan (Siramli). Capaian tersebut melampaui rata-rata produktivitas padi Kabupaten Sleman yang berada di kisaran 6,03 ton GKG per hektare.
Keberhasilan itu diperoleh dari pengelolaan lahan pertanian seluas 12,5 hektare yang dilakukan secara kolektif oleh anggota kelompok tani. Mereka menerapkan budi daya padi sehat dengan mengedepankan pengelolaan ekosistem alami serta mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Liem Astuti, mengapresiasi upaya Kelompok Tani Ngudi Mulyo dalam mengembangkan pertanian ramah lingkungan sekaligus meningkatkan hasil panen. Menurutnya, capaian tersebut memperlihatkan potensi penerapan budi daya tanaman sehat dalam mendukung produktivitas pertanian daerah.
“Kelompok Tani Ngudi Mulyo di Jirak, Bokoharjo, Prambanan, ini tidak hanya sukses melakukan wiwitan dan panen padi, tetapi juga berhasil menjadi juara 1 se-DIY dalam lomba SIRAMLI atau Sistem Irigasi Ramah Lingkungan,” kata Liem Astuti di Sleman, Minggu (25/10/2026).
Berdasarkan hasil pengukuran ubinan di lokasi, produktivitas gabah kering panen (GKP) mencapai 9,76 ton per hektare. Setelah dikonversi menjadi gabah kering giling, hasilnya tercatat sebesar 7,84 ton per hektare.
Jika dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi Kabupaten Sleman sebesar 6,03 ton GKG per hektare, capaian kelompok tani tersebut lebih tinggi sekitar 30 persen. Perbandingan ini menunjukkan hasil panen yang diperoleh berada di atas rata-rata produktivitas daerah.
Liem menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak hanya dilihat dari jumlah gabah yang dihasilkan, tetapi juga dari pendekatan budi daya yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Pengelolaan pertanian secara berkelompok menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga konsistensi penerapan metode tersebut.
Siramli diterapkan sebagai pendekatan pengelolaan irigasi yang memperhatikan kondisi lingkungan pertanian. Dalam pelaksanaannya, kelompok tani mengupayakan pemanfaatan ekosistem alami dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis selama proses budi daya tanaman.
Penerapan metode tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan budi daya padi sehat. Petani mengelola lahan secara kolektif dengan mengedepankan kedisiplinan dalam kegiatan pertanian agar pengelolaan tanaman dapat berjalan sesuai dengan prinsip yang diterapkan kelompok.
Atas upaya tersebut, Kelompok Tani Ngudi Mulyo berhasil meraih juara pertama dalam lomba Siramli tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas praktik pengelolaan irigasi ramah lingkungan yang dikembangkan kelompok tani di wilayah Prambanan.
Tidak berhenti pada hasil gabah, kelompok tani tersebut juga mengembangkan hasil panen menjadi produk beras sehat. Langkah ini diarahkan untuk memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian sekaligus memperluas manfaat penerapan budi daya yang memperhatikan lingkungan.
Menurut Liem, pengembangan beras sehat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan mutu produk pertanian yang dihasilkan petani. Pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis dalam proses budi daya merupakan bagian dari pendekatan tersebut, meskipun keamanan produk tetap perlu dipastikan melalui pengujian yang sesuai.
Kegiatan wiwitan dan panen padi yang dilaksanakan Kelompok Tani Ngudi Mulyo turut menjadi momentum untuk memperlihatkan hasil pengelolaan lahan pertanian mereka. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan keterlibatan petani dalam mengembangkan praktik budi daya yang berorientasi pada produktivitas dan keberlanjutan.
DP3 Sleman berharap keberhasilan Kelompok Tani Ngudi Mulyo dapat menjadi referensi bagi kelompok tani lain dalam mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Praktik budi daya tanaman sehat dan pengelolaan irigasi yang sesuai dengan kondisi setempat diharapkan dapat diterapkan lebih luas di wilayah Kabupaten Sleman.
“Melalui keberhasilan KT Ngudi Mulyo ini, DP3 Sleman berharap praktik baik budi daya tanaman sehat dan pengelolaan irigasi ramah lingkungan dapat terus direplikasi oleh kelompok tani lainnya di seluruh wilayah Kabupaten Sleman,” ujar Liem.
Capaian produktivitas 7,84 ton GKG per hektare tersebut menjadi salah satu gambaran potensi pengembangan pertanian sehat di Sleman. Melalui pendampingan dan penerapan praktik budi daya yang sesuai, pemerintah daerah berharap produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.(*)

