Hadapi Perubahan Iklim, DP3 Sleman Andalkan Modernisasi Pertanian

PEWARTANEWS.COM, – Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat transformasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga produktivitas pangan di tengah ancaman perubahan iklim, meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan, sekaligus membuka peluang keterlibatan generasi muda dalam usaha pertanian modern.

Pengembangan sistem irigasi hemat air, penggunaan greenhouse, digitalisasi pertanian berbasis Internet of Things (IoT), hingga pemanfaatan energi surya menjadi sejumlah pendekatan yang didorong untuk menjawab tantangan pertanian masa depan.

Upaya tersebut mengemuka dalam kegiatan Jejak Lingkungan bertajuk “Pertanian Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan” yang berlangsung di Alga Dapur and Cafe, Padukuhan Sanggrahan, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Jumat (2/10/2026).

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Eko Sugianto, mengatakan penerapan teknologi ramah lingkungan telah menjadi bagian dari program pengembangan pertanian yang dirancang secara terstruktur dan berkelanjutan.

Menurutnya, perubahan pola pertanian semakin mendesak seiring meningkatnya risiko kekeringan ekstrem, termasuk fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air dan produktivitas tanaman.

“Program ramah lingkungan ini tidak hanya sebatas kami awasi, tetapi kami programkan secara terstruktur. Konsep ramah lingkungan yang kita maksud adalah penerapan teknologi yang efisien dan tidak merusak alam, salah satunya melalui efisiensi pemanfaatan air untuk menghadapi ancaman kekeringan,” ujar Eko.

Selain menjawab persoalan lingkungan, modernisasi dinilai menjadi pintu masuk untuk mengubah pandangan generasi muda terhadap sektor pertanian. Pemanfaatan teknologi memungkinkan aktivitas budidaya dilakukan secara lebih praktis, terukur, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.

Eko mencontohkan penggunaan greenhouse yang dipadukan dengan sistem pengendalian berbasis aplikasi telepon pintar. Teknologi tersebut memungkinkan petani mengatur kebutuhan tanaman secara lebih presisi tanpa sepenuhnya bergantung pada metode konvensional.

“Generasi sekarang tidak mungkin kami minta bertani secara konvensional seperti dulu. Dengan greenhouse dan kontrol berbasis aplikasi smartphone, bertani jadi lebih efisien, ramah lingkungan, dan menghasilkan produk pangan yang aman,” jelasnya.

Teknologi Irigasi Tetes Tingkatkan Kualitas Panen

Manfaat modernisasi pertanian turut dirasakan pelaku usaha hortikultura di Sleman. Pemilik Kebun Kenayan, Yuharni Agustika, mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi telah membantunya mengatasi berbagai kendala budidaya, terutama dalam pengaturan kebutuhan air tanaman.

Perempuan yang akrab disapa Ika itu mengembangkan komoditas hortikultura premium, antara lain melon dan tomat, dengan memanfaatkan greenhouse serta sistem irigasi tetes (drip irrigation).

Sebelum menerapkan teknologi tersebut, ia mengaku beberapa kali mengalami kegagalan akibat penyiraman manual yang sulit dikontrol. Pasokan air berlebih menyebabkan akar tanaman membusuk dan memengaruhi hasil produksi.

“Dulu kalau penyiraman manual, kami tidak tahu takarannya sehingga akar tanaman sering busuk karena kelebihan air. Setelah menggunakan sistem drip, penggunaan air jadi jauh lebih efisien, hasil panen sangat bagus, dan kualitasnya masuk kategori premium,” ungkap Ika.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tidak semata-mata berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga membantu petani mengelola sumber daya secara lebih efektif.

Ika pun mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai melihat pertanian sebagai kegiatan yang dapat dilakukan tanpa harus memiliki lahan luas. Metode hidroponik maupun penggunaan polybag, menurutnya, bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan kegiatan bercocok tanam di lingkungan dengan keterbatasan ruang.

Ia juga menilai aktivitas menanam memiliki manfaat lebih luas karena dapat mendukung kelestarian lingkungan sekaligus memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental.

“Mari kita coba mulai menanam, meskipun tidak punya lahan luas bisa pakai hidroponik atau polybag. Dengan cara-cara modern ini, kita tidak perlu capek-capek mencangkul atau menggemburkan tanah secara manual,” tuturnya.

DPRD Dorong Penguatan Anggaran dan Perlindungan Petani

Di sisi lain, keberhasilan transformasi pertanian dinilai membutuhkan dukungan kebijakan dan anggaran yang berkesinambungan. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi, tetapi juga memastikan petani memperoleh akses terhadap pendampingan, peningkatan kapasitas, serta sarana produksi yang memadai.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Surana, menegaskan bahwa lembaga legislatif berkomitmen mendukung pengembangan pertanian modern melalui penguatan fungsi penganggaran dan legislasi.

Menurutnya, keberlanjutan sektor pangan tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan lahan. Dukungan pemerintah diperlukan agar pelaku pertanian mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan kesejahteraannya.

“DPRD Sleman terus berkomitmen untuk mengawal dan mendukung penuh program-program peningkatan kapasitas petani, termasuk fasilitasi sarana prasarana modern. Pertanian ke depan harus lebih prospektif agar mampu menyejahterakan pelakunya,” kata Surana.

Ia menambahkan, keberpihakan terhadap sektor pertanian juga perlu diperkuat melalui implementasi regulasi perlindungan petani. Peraturan daerah yang telah disahkan diharapkan tidak berhenti sebagai landasan hukum, melainkan diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat nyata.

Surana turut menyoroti pentingnya pengalokasian anggaran daerah secara proporsional untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan usaha pertanian berbasis teknologi.

“Kami di DPRD terus mengawal agar regulasi perlindungan petani bisa berjalan optimal. Terlebih, Sleman memiliki potensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang cukup besar, yakni mencapai Rp1,712 triliun pada tahun ini,” ujarnya.

Ia berharap kapasitas fiskal tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Dengan dukungan teknologi, pengalaman pelaku usaha, serta penguatan kebijakan pemerintah daerah, modernisasi pertanian di Sleman diharapkan mampu mendorong sistem produksi pangan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan memiliki daya tarik ekonomi bagi generasi muda.(*)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *