Ketahanan Pangan Sleman Tembus 85,50, Modernisasi Pertanian Jadi Prioritas

PEWARTANEWS.COM, – Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat modernisasi pertanian dan pengembangan pangan lokal untuk mempertahankan capaian indeks ketahanan pangan sebesar 85,50 pada 2025. Nilai tersebut menempatkan Sleman di posisi tertinggi se-Pulau Jawa dan peringkat ketujuh secara nasional.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Liem Astuti, mengatakan capaian itu mencerminkan kondisi ketahanan pangan yang didukung ketersediaan pasokan, kemudahan akses ekonomi, kestabilan harga, serta distribusi yang optimal. Kualitas konsumsi masyarakat juga menjadi perhatian, terutama dalam pemenuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.

“Pangan merupakan hak dasar manusia yang menentukan kualitas generasi penerus,” tegas Liem dalam sambutannya pada peringatan Hari Pangan Sedunia di kantor DP3 Sleman, Rabu (21/10).

Sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2026, Innovate Today, Nourish Tomorrow, DP3 Sleman mendorong pembaruan sektor pertanian melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Sistem ini mengintegrasikan teknologi, mekanisasi, dan pengelolaan presisi dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pengolahan lahan hingga panen.

Salah satu penerapannya adalah pengaturan jarak tanam secara optimal untuk meningkatkan populasi tanaman dan memaksimalkan pemanfaatan lahan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat proses budi daya lebih efisien.

Selain meningkatkan produksi, pemerintah daerah juga mendorong pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Upaya ini diharapkan membuka peluang usaha baru, memperluas pasar produk lokal, dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.

Liem menambahkan, penguatan ketahanan pangan perlu dibarengi pengembangan pertanian ramah lingkungan, pembangunan rantai pasok yang adaptif, serta pengurangan pemborosan pangan. “Hari Pangan Sedunia ini jadi momentum refleksi untuk terus memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan bahwa capaian ketahanan pangan harus dipertahankan di tengah tantangan pembangunan daerah. Sebagai salah satu wilayah penyangga pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sleman menghadapi potensi penyusutan lahan pertanian akibat meningkatnya kebutuhan ruang untuk berbagai aktivitas pembangunan.

Meski demikian, Harda optimistis sektor pertanian tetap dapat berkembang berkat semangat para petani. “Tapi saya yakin bisa karena saya melihat teman-teman petani semangat hari ini,” katanya.

Harda juga mengajak masyarakat mulai memperluas pilihan sumber karbohidrat agar konsumsi tidak hanya bertumpu pada beras. Ia mencontohkan nasi jagung sebagai salah satu alternatif pangan lokal yang memiliki cita rasa tak kalah dari nasi putih.

Peringatan Hari Pangan Sedunia di Sleman turut diisi sejumlah kegiatan untuk memperkenalkan inovasi dan potensi sektor pertanian. Agenda tersebut meliputi talkshow pertanian, lomba kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa (kelompencapir), serta peluncuran aplikasi informasi potensi pertanian dan perikanan.

Dalam kesempatan tersebut, DP3 Sleman menyerahkan bantuan 31 unit hand sprayer elektrik dan alat pengolah kopi. Pemerintah daerah juga memberikan apresiasi kepada pelaku sektor pertanian yang menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebanyak 43 stan pelaku usaha pertanian turut meramaikan kegiatan dengan menampilkan produk dan potensi usaha di sektor pangan. Acara juga diisi gerakan makan telur dan minum susu produksi petani Sleman untuk mendorong konsumsi hasil pertanian dan peternakan lokal.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan perebutan hasil gunungan berisi aneka sayuran oleh pengunjung. Selain memeriahkan peringatan, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan hasil pertanian lokal kepada masyarakat.

Melalui modernisasi pertanian, penguatan rantai pasok, dan pengembangan produk lokal, Pemkab Sleman berupaya menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Capaian indeks ketahanan pangan 85,50 menjadi modal untuk menghadapi tantangan pembangunan dan menjaga keberlanjutan sektor pangan di masa mendatang.(*)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *