PEWARTANEWS.COM, Kota Bekasi – Ada pemandangan berbeda dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 10 Kota Bekasi, Kamis (16/7/2026). Di tengah rangkaian Demo Ekstrakurikuler bertema “MPLS CANDY”, lapangan upacara yang biasanya menjadi ruang latihan baris-berbaris berubah menjadi panggung budaya. Melalui kreativitas Grup Paskibra SFOFER, disiplin Paskibra dipadukan dengan seni wayang dalam sebuah pertunjukan bertajuk “Rama dan Sinta” yang memukau ratusan peserta didik, guru, serta orang tua yang hadir.
Sejak aba-aba pertama dikumandangkan, derap langkah para anggota Paskibra membentuk irama yang tegas sekaligus artistik. Formasi yang lazim digunakan dalam latihan baris-berbaris dikembangkan menjadi bahasa visual yang mengisahkan perjalanan tokoh-tokoh pewayangan. Setiap perpindahan konfigurasi tidak sekadar menunjukkan ketepatan gerak, melainkan menghadirkan alur dramatik yang membawa penonton memasuki kisah kepahlawanan Rama dan Sinta.
Gunungan tampil sebagai simbol pembuka kehidupan dan keseimbangan alam, komandan Paskibra menampilkan gerak atraktif adegan perang wayang golek Anoman melawan Rahwana, disusul kemunculan Hanoman wayang orang yang menggambarkan keberanian dan pengabdian. Sosok Rama dan Sinta menjadi representasi kesetiaan, keteguhan hati, serta kemenangan nilai-nilai kebenaran atas kejahatan. Perpaduan disiplin Paskibra dengan estetika seni pertunjukan menjadikan lapangan sekolah seolah bertransformasi menjadi panggung teater budaya yang hidup.
Sorak tepuk tangan bergemuruh setiap kali konfigurasi berubah membentuk komposisi baru. Penonton tidak hanya menyaksikan keterampilan baris-berbaris, tetapi juga menikmati sebuah pertunjukan yang mampu menghidupkan kembali warisan budaya Nusantara melalui bahasa gerak yang komunikatif dan mudah dipahami generasi muda.
Pertunjukan berdurasi sekitar delapan menit tersebut disusun dalam bahasa Indonesia dengan pendekatan yang menggabungkan unsur kedisiplinan, koreografi, teater, dan seni pewayangan. Keunikan pertunjukan semakin terasa ketika Ediyar Mubarok sebagai komandan Paskibra menyampaikan aba-aba dengan gaya bertutur layaknya seorang dalang. Irama komando berpadu dengan narasi pewayangan sehingga menciptakan suasana dramatik yang berbeda dari penampilan Paskibra pada umumnya.
Tokoh-tokoh pewayangan diperankan secara apik oleh para anggota. Ediyar Mubarok atau Dalang Yayar Ajen, binaan langsung dari Ki Dalang Wawan Ajen di 1Sanggar Wayang Ajen, Aydin Naufal Hardiyanto memerankan Rama, Raihana sebagai Sinta, Muhammad Bayu Fahrizal sebagai Hanoman, Yoga Andi Pratama sebagai Gunungan I, dan Zulfaa Alya Azizah sebagai Gunungan II. Mereka didukung oleh anggota lainnya yang memerankan prajurit Kerajaan Ayodya dan Alengka melalui konfigurasi Paskibra yang dinamis.
Salah satu adegan yang paling memikat perhatian penonton adalah ketika seorang anggota Paskibra Muhamad Bayu Fahrizal mengenakan kostum Hanoman. Dengan gerakan yang lincah, gagah, dan tetap berpijak pada disiplin Paskibra, tokoh Hanoman tampil menyatu dengan unsur tari wayang. Di sisi lain, komposisi Gunungan yang dibawakan para anggota menghadirkan nuansa filosofis tentang awal kehidupan, perjalanan manusia, serta kemenangan kebajikan. Perpaduan gerak Paskibra, tari wayang, dan dramatika pewayangan melahirkan pertunjukan yang kaya makna sekaligus menghibur.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Pengurus OSIS SMP Negeri 10 Kota Bekasi ini bertujuan memperkenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler kepada peserta didik baru dengan suguhan nilai keafifan budaya lokal. Namun, penampilan Paskibra SFOFER berhasil melampaui fungsi demonstrasi semata. Pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa Paskibra dapat menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus wahana pelestarian seni dan budaya Indonesia.
Grup SFOFER dipimpin oleh Ni Komang Jennifer Roder dengan pelatih Zacky Raihan. Tim yang beranggotakan 16 siswa kelas IX berusia rata-rata 14–15 tahun ini tampil dengan kekompakan, ketelitian, dan semangat yang mencerminkan hasil latihan yang matang. Penampilan mereka menjadi salah satu atraksi yang paling mendapat apresiasi sepanjang kegiatan MPLS.
Kepala SMP Negeri 10 Kota Bekasi, Suharyanto, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kreativitas para siswa dalam menghadirkan inovasi pembelajaran karakter melalui seni budaya. Menurutnya, Paskibra bukan hanya sarana membangun kedisiplinan dan kepemimpinan, tetapi juga media untuk menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, kecintaan terhadap budaya bangsa, serta rasa bangga sebagai bagian dari Indonesia.
Penyelenggara berharap inovasi ini menjadi inspirasi bagi peserta didik baru untuk bergabung dalam kegiatan Paskibra sekaligus memahami bahwa organisasi tersebut bukan hanya tentang baris-berbaris, melainkan juga tentang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap warisan budaya bangsa. Regenerasi yang berkelanjutan diharapkan mampu membawa Paskibra SMP Negeri 10 Kota Bekasi semakin berprestasi di tingkat daerah maupun nasional.
Lebih jauh, pertunjukan ini menyampaikan pesan bahwa kisah Rama dan Sinta tidak hanya hidup di panggung wayang, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi pendidikan karakter. Nilai kejujuran, kesetiaan, keberanian, pengorbanan, kedisiplinan, dan pengabdian kepada kebenaran diterjemahkan melalui konfigurasi barisan yang tertata rapi, komando yang tegas, serta gerak artistik yang memikat.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kolaborasi antara Paskibra dan seni wayang menjadi contoh bahwa inovasi tidak harus memutus hubungan dengan tradisi. Justru ketika budaya ditempatkan sebagai sumber inspirasi, lahirlah karya yang relevan dengan zaman sekaligus memperkuat identitas bangsa.
Dari lapangan SMP Negeri 10 Kota Bekasi, para siswa membuktikan bahwa setiap langkah barisan dapat menjadi cerita, setiap formasi dapat menjadi media pembelajaran, dan setiap gerakan dapat menjadi pengingat bahwa mencintai Indonesia berarti menjaga serta menghidupkan kebudayaannya untuk generasi yang akan datang.
Pada kesempatan terpisah, budayawan, akademisi, sekaligus pendiri Wayang Ajen Diversity, Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M., yang lebih dikenal sebagai Ki Dalang Wawan Ajen, menyampaikan apresiasi atas kreativitas yang ditunjukkan para anggota Paskibra SMP Negeri 10 Kota Bekasi. Menurutnya, gagasan memadukan disiplin Paskibra dengan seni wayang melalui teknik mendalang, gerak artistik, serta konfigurasi yang mengangkat lakon Rama–Sinta merupakan sebuah inovasi pendidikan yang patut dikembangkan.
“Wayang memiliki karakter yang sangat fleksibel, inovatif, adaptif, kolaboratif, dan implementatif. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dihadirkan dalam berbagai ruang kehidupan, termasuk di lingkungan sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ketika Paskibra mengadopsi pola bertutur seorang dalang, mengolah formasi menjadi alur cerita, serta menghadirkan tokoh-tokoh pewayangan melalui gerak yang disiplin dan artistik, sesungguhnya mereka sedang membangun pengalaman belajar yang utuh, kolaborasi, kreatif, dan bermakna,” ujarnya.
Menurut Ki Dalang Wawan Ajen, kolaborasi tersebut membuktikan bahwa seni dan budaya tidak pernah menjadi beban dalam proses pendidikan. Sebaliknya, sentuhan budaya justru menghadirkan dimensi emosional, estetis, filosofis, dan spiritual yang memperkaya pembentukan karakter peserta didik. Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, keberanian, kepemimpinan, kerja sama, disiplin, pengorbanan, serta kecintaan terhadap bangsa dapat ditanamkan secara alami melalui kisah-kisah pewayangan yang diwariskan turun-temurun.
Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif ketika disampaikan melalui pengalaman yang menyenangkan dan menginspirasi. Wayang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, melainkan juga tuntunan yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Karena itu, kolaborasi antara Paskibra dan seni wayang layak menjadi model pembelajaran kreatif yang dapat direplikasi di berbagai sekolah di Indonesia.
“Generasi muda tidak cukup hanya dibekali kecerdasan intelektual dan keterampilan teknis. Mereka juga harus memiliki karakter yang kuat, jati diri kebangsaan, kecintaan terhadap budaya, serta kemampuan berkolaborasi dan berinovasi. Inilah modal penting untuk melahirkan generasi yang tangguh, berdaya saing global, namun tetap berakar pada nilai-nilai luhur bangsa dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkas Ki Dalang Wawan Ajen.(*)
