Site icon Pewarta News

Yusuf La Sea Sea Hadirkan Potret Kehidupan Sulawesi Tenggara dalam Ilusi Serumpun Sagu

PEWARTANEWS.COM, Jakarta – Keterbatasan ekonomi, kelaparan, hingga serangan malaria tak menghentikan langkah seorang pemuda asal pesisir Buton untuk mengejar pendidikan di Kendari.

Pengalaman pahit sekaligus penuh harapan itu kini dituangkan Ir. Yusuf M, AP, yang menggunakan nama pena Yusuf La Sea Sea, dalam novel semi fiksi berjudul Ilusi Serumpun Sagu.

Novel tersebut mengangkat perjalanan hidup seorang mahasiswa perantauan yang tinggal di kawasan Kemaraya, Kendari, Sulawesi Tenggara. Berbekal mimpi untuk mengubah nasib, tokoh utama menjalani kehidupan sederhana di sebuah gubuk bambu bersama sahabat-sahabatnya.

Di tengah bekal yang semakin menipis, kelaparan dan penyakit menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari. Namun, kerasnya kehidupan tidak memadamkan semangatnya untuk mempertahankan pendidikan dan menatap masa depan yang lebih baik.

Yusuf mengatakan, Ilusi Serumpun Sagu lahir dari pengalaman hidup yang kemudian dipadukan dengan unsur-unsur fiksi.

Melalui novel ini, ia ingin menghadirkan cerita tentang perjuangan, persahabatan, pendidikan, dan cinta yang menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam menemukan makna hidup.

“Tidak semua perjuangan berjalan dengan mudah. Ada masa ketika keterbatasan, kelaparan, penyakit, dan berbagai persoalan hidup datang bersamaan. Namun, justru dari situ kita belajar bertahan dan menemukan kekuatan untuk terus melangkah,” ujar Yusuf.

Selain perjuangan hidup, Ilusi Serumpun Sagu juga menghadirkan kisah cinta yang tumbuh di tengah masa-masa sulit.

Tokoh utama menyimpan perasaan mendalam kepada seorang perempuan yang dikaguminya.
Namun, cinta tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Perasaan itu hadir indah untuk dirasakan, tetapi sulit untuk dimiliki.

Rumpun-rumpun sagu, rawa-rawa, aroma formalin di ruang praktikum, hingga senja di Kemaraya menjadi bagian dari lanskap kenangan yang mengiringi perjalanan cinta tersebut.

Menurut Yusuf, novel ini tidak semata-mata berbicara tentang cinta yang tak berbalas. Lebih dari itu, cerita tersebut menggambarkan bagaimana perasaan, kenangan, dan kegagalan dapat menjadi energi bagi seseorang untuk terus bertumbuh.

“Tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki. Ada perasaan yang justru menjadi sumber semangat untuk bertahan, belajar, dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik,” kata Yusuf.

Novel semi fiksi ini juga menjadi potret kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Yusuf menghadirkan berbagai peristiwa dengan nuansa hangat, jenaka, dan mengharukan, sehingga pembaca tidak hanya mengikuti perjalanan tokoh utama, tetapi juga merasakan suasana kehidupan pada masa tersebut.

Perjalanan seorang anak kampung yang berusaha mengubah nasib melalui pendidikan menjadi salah satu benang merah dalam Ilusi Serumpun Sagu. Persahabatan, kerja keras, keterbatasan ekonomi, serta berbagai pengalaman masa muda menjadi bagian penting yang membentuk keteguhan karakter tokohnya.

Yusuf berharap novel tersebut dapat memberikan ruang refleksi bagi pembaca, terutama tentang arti perjuangan dan penerimaan terhadap perjalanan hidup.

Seiring waktu, berbagai peristiwa yang pernah meninggalkan luka pada akhirnya dapat berubah menjadi kenangan yang disyukuri. Begitu pula dengan cinta yang tidak pernah berhasil dimiliki.

Dalam Ilusi Serumpun Sagu, kenangan digambarkan seperti rumpun sagu yang terus hidup dalam angan. Mungkin hanya ilusi, tetapi tetap memiliki arti dan mampu memberikan makna bagi perjalanan hidup seseorang.

Melalui novel ini, Yusuf mengajak pembaca melihat bahwa harapan dapat tumbuh bahkan dari tempat yang paling sederhana.

Bahwa keterbatasan bukan selalu akhir dari perjalanan, melainkan bisa menjadi awal dari keteguhan untuk meraih masa depan.(*)

Exit mobile version