Site icon Pewarta News

Wayang Ajen Junior: Ketika Anak Muda Melestarikan Budaya dan Pemerintah Diharapkan Hadir

Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.

PEWARTANEWS.COM, Subang Jawa Barat, 22 Agustus 2026 – Kemerdekaan Harus Menjadi Ruang Aktualisasi Masyarakat Semarak Kemerdekaan tidak semestinya berhenti pada seremoni, perlombaan, pemasangan atribut merah putih, atau perayaan sesaat. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi ruang aktualisasi warga negara untuk membangun karakter, merawat kebudayaan, memperkuat identitas nasionalisme bangsa, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat secara berkelanjutan. Bagi kami, makna kemerdekaan bukan hanya memperingati tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah kemampuan masyarakat untuk berinisiatif, berkarya, menciptakan nilai, menjaga identitas, dan membangun masa depan dengan kekuatan sendiri.

Atas dasar pemikiran tersebut, kami menggagas PARADE DALANG CILIK & REMAJA WAYANG AJEN JUNIOR, yang diselenggarakan pada 22 Agustus 2026 di Villa Wayang Ajen D’Lalamping, RW 05 Sukamelang, Subang, Jawa Barat. Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni. Di balik panggung tersebut terdapat gagasan yang lebih besar: bagaimana masyarakat dapat bergerak dari bawah, bagaimana anak-anak dapat belajar kebudayaan melalui pengalaman langsung, dan bagaimana seni tradisi dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter budi pekerti luhur, regenerasi seniman, penguatan identitas, nasionalisme hingga pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya.

Ketika Anak-Anak Belajar Menjadi Pewaris Kebudayaan

Event ini menghadirkan tiga belas dalang cilik binaan Sanggar Wayang Ajen, yaitu Endaru (5 tahun), Aden Azlan (5 tahun), Rafan Gifari (6 tahun), Yudistira (10 tahun), Nino (7 tahun), Icen (11 tahun), Haedar (10 tahun), Zafier Gameel (9 tahun), Aden Azka (9 tahun), Satria (13 tahun), Mario Wicaksono (12 tahun), Angelica Sitinjak (10 tahun), dan Arachi Ammra (11 tahun). Para dalang cilik tampil dari mulai pukul 14,00 sampai 17.30 secara bergiliran dengan membawakan adegan, tokoh, dan karakter sesuai materi yang telah diajarkan di Sanggar Wayang Ajen, dengan durasi sekitar 10–25 menit. Malam harinya mulai pukul 20.00 -00.00 WIB tampil satu dalang cilik Aden Azka Asstrobery Putra dengan membawakan lakon anoman duta selama 45 menit, dilanjutkan tiga dalang remaja binaan Ki Dalang Wawan Ajen, yaitu Yayar Ajen (15 tahun), Adimas Ajen (17 tahun), dan Aming Ajen (19 tahun) yang tampil secara estapet  memukau melalui lakon Babad Alas Mertani.

Acara semakin meriah denga penampilan para penari remaja Wayang Ajen seperti Keshy, Najla, Nina, Khanza, Dewi, Aqila,Keyvhi yang membawakan beragam karya, antara lain Tari Nusantara, Tari Gunungan, Tari Ronggeng Beken, Fashion Show Karnaval Batik, Tari Subali Sugriwa, Tari Kalaider, dan Tari Sayur Lodeh. Seorang penari asli warga Sukamelang, Subang, Aqilah Fitria (12 thn) turut menampilkan Tari Karaton Mandalawangi yang sangat enerjik.  Sementara itu, Antika Wandandini Gunawan (15 th) tampil menyanyikan lagu Indonesia Jaya secara ekspresif di panggung dengan latar  penari dan fashion show kostum karnaval.

Para dalang cilik dan remaja, demikian pula para penari, sesungguhnya bukan sekadar tampil di atas panggung. Mereka sedang belajar menjadi generasi yang mengenal, mencintai, mengembangkan, dan mempertanggungjawabkan kebudayaannya sendiri. Bagi kami, panggung Wayang Ajen Junior adalah ruang pendidikan karakter melalui kebudayaan. Anak-anak belajar keberanian, disiplin, kreativitas, tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, penghormatan terhadap tradisi, sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Inilah substansi penting dari pemajuan kebudayaan. Kebudayaan tidak cukup hanya dilestarikan sebagai benda atau tontonan, tetapi harus dihidupkan sebagai proses pendidikan, ekspresi kreatif, ruang partisipasi masyarakat, dan sumber nilai tambah bagi kehidupan.

Masyarakat Membuktikan Bahwa Kebudayaan Bisa Bergerak dari Bawah

Hal yang patut kami tegaskan adalah bahwa seluruh penyelenggaraan kegiatan ini murni dibiayai oleh keluarga Wayang Ajen, kekompakan para orang tua dalang cilik, dan dukungan para simpatisan. Kegiatan ini tidak menggunakan APBN maupun APBD. Karena itu, event ini bagi kami merupakan bentuk nyata inisiatif masyarakat berbasis budaya. Kami tidak sedang menunggu pemerintah membiayai kebudayaan. Kami justru menunjukkan bahwa masyarakat mampu bergerak, berinisiatif, berinvestasi, dan membangun ekosistem kebudayaan dari sumber daya yang mereka miliki.

Kami mengapresiasi kehadiran dan dukungan unsur pemerintahan serta masyarakat yang memberikan perhatian terhadap kegiatan ini, antara lain Camat Subang Sumaryadi, S.STP., M.Ap., Sekretaris Kecamatan Subang Ida Erlinda SE. M.Si., M.Tr. Par. Kapolsek Subang AKP. Endang Suganda, Lurah Sukamelang Anas Hamzah, S.A.N., jajaran RW 05, para ketua RT, serta masyarakat sekitar. Apresiasi juga datang dari para budayawan dan seniman Subang, antara lain Bah Nanu Munajar, S,Sn.,M.Hum, Kang Asep Kusmana, M.Sn, Mas Edi, S,Sn, serta sejumlah seniman Subang lainnya.

Dukungan terhadap kegiatan ini bahkan datang dari luar wilayah Subang. Prof. Dr. Geovani Vanrega, Pendiri dan Pengasuh Pesantren Al Kasyaf Cileunyi, Kabupaten Bandung, serta Alam Syah Pradja, S,Sn, Ketua Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi (DKKKB), beserta jajaran anggotanya, hadir dan memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan event budaya ini. Bagi kami, apresiasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan mampu menjadi jembatan sosial dan kultural yang melampaui batas administratif wilayah.

Ketika Inisiatif Masyarakat Belum Sepenuhnya Mendapat Respons Negara

Namun, kami juga perlu menyampaikan sebuah catatan kritis. Sebelum kegiatan dilaksanakan, kami sebagai penyelenggara telah menyampaikan surat kepada Dinas Pariwisata  Subang, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang.

Surat tersebut pada prinsipnya bukan permintaan pembiayaan. Kami hanya meminta izin, dukungan, dan kehadiran sebagai bentuk apresiasi terhadap inisiatif masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan. Namun hingga kegiatan selesai, tidak terdapat perwakilan dari kedua perangkat daerah tersebut yang hadir untuk memberikan apresiasi secara langsung. Kami memperoleh informasi melalui WhatsApp bahwa Kepala Dinas Pariwisata Subang tidak dapat hadir karena sedang sakit. Beliau menyampaikan bahwa telah menunjuk Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata untuk hadir. Namun pada kenyataannya, perwakilan tersebut juga tidak hadir. Demikian pula dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subang, tidak terdapat perwakilan yang hadir.

Kami tentu memahami bahwa pemerintah memiliki banyak agenda, keterbatasan waktu, dan berbagai prioritas pembangunan. Karena itu, kami tidak mempersoalkan ketidakhadiran tersebut secara personal. Tetapi secara kelembagaan, kondisi ini perlu menjadi bahan refleksi bersama. Sebab, apabila sebuah event yang menghadirkan anak-anak dan remaja untuk belajar seni tradisi, mengembangkan kreativitas, memperkuat karakter, serta membangun atraksi budaya di tengah masyarakat dianggap tidak strategis, maka kita perlu bertanya kembali:

Apa sebenarnya ukuran penting atau tidak pentingnya sebuah program kebudayaan? Apakah sebuah kegiatan baru dianggap penting apabila menggunakan anggaran pemerintah? Apakah kebudayaan baru dianggap bernilai ketika menghasilkan proposal besar dan kegiatan berskala festival? Ataukah justru keberhasilan pembangunan kebudayaan harus diukur dari seberapa jauh masyarakat mau bergerak, anak-anak mau belajar, seniman mau berkarya, dan tradisi mampu hidup dalam kehidupan generasi baru? Pertanyaan tersebut penting karena pembangunan kebudayaan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Tetapi pemerintah juga tidak boleh kehilangan sensitivitas terhadap inisiatif kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.

Dari Pelestarian, Pembinaan  Menuju Pemajuan Kebudayaan

Kami melihat Wayang Ajen Junior bukan sekadar pertunjukan seni. Ia merupakan model kecil tentang bagaimana kebudayaan dapat bekerja sebagai instrumen pendidikan, pembangunan karakter, penguatan identitas, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Anak-anak yang tampil hari ini adalah investasi kebudayaan untuk masa depan. Mereka belajar bahwa menjadi generasi Indonesia tidak cukup hanya mengetahui sejarah dan menghafal nilai-nilai kebangsaan. Mereka harus memiliki pengalaman langsung dalam menghidupkan kebudayaan di tengah masyarakat.

Karena itu, kebudayaan harus ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan manusia. Wayang, dalam konteks ini, bukan sekadar warisan kesenian masa lalu. Wayang dapat menjadi media pendidikan karakter, laboratorium kreativitas,pengalaman hidup, ruang ekspresi generasi muda, atraksi wisata budaya, sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Ketika pertunjukan budaya menghadirkan penonton, menggerakkan pelaku seni, melibatkan masyarakat, membuka peluang ekonomi seperti kuliner, transportasi, akomodasi, dokumentasi, promosi, dan aktivitas ekonomi lokal lainnya, maka kebudayaan mulai menghasilkan nilai tambah ekonomi. Inilah titik temu antara pemajuan kebudayaan, pariwisata berkualitas, ekonomi kreatif, dan pembangunan masyarakat.

Wayang Ajen Junior dan  Harapan Menuju Indonesia Emas 2045

Kami berpandangan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya dibangun melalui infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia Emas juga harus dibangun melalui manusia yang berkarakter, memiliki identitas, kreatif, adaptif, produktif, dan mampu mengembangkan kekayaan budaya menjadi kekuatan ekonomi. Di sinilah Wayang Ajen mengambil posisi. Selama hampir tiga dekade, Wayang Ajen terus berupaya mempertemukan tradisi dan inovasi, budaya dan teknologi, pendidikan dan kreativitas, serta seni pertunjukan dan ekonomi kreatif. Event Parade Dalang Cilik & Remaja Wayang Ajen Junior merupakan salah satu bentuk konkretnya.

Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia tidak harus meninggalkan budaya lokal untuk menjadi modern. Mereka justru dapat menjadi modern dengan akar budaya yang kuat. Mereka dapat mengenal wayang sekaligus teknologi. Mengenal tradisi sekaligus kreativitas. Mengenal lokalitas sekaligus berpikir global.

Dari Event Budaya Menjadi Atraksi Wisata Budaya

Lebih jauh, event seperti ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya yang berkelanjutan. Subang memiliki kekayaan alam, budaya, seni, komunitas, dan kreativitas masyarakat yang sangat potensial. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai potensi, tetapi dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang autentik, berkualitas, inklusif, dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal secara berkelanjutan. Karena itu, event atraksi wisata budaya harus mulai dipandang sebagai bagian dari destination development, bukan sekadar kegiatan hiburan.

Jika dikelola secara profesional, Parade Dalang Cilik dan Remaja, juga para penari cilik dan remaja, dapat dikembangkan menjadi agenda budaya yang memiliki: Nilai edukasi; Nilai pelestarian dan pemajuan budaya; Nilai regenerasi seniman; Nilai atraksi wisata; Nilai ekonomi kreatif; Nilai pemberdayaan masyarakat; Nilai promosi destinasi; dan Nilai penguatan identitas daerah. Dengan demikian, kebudayaan tidak ditempatkan di pinggir pembangunan, tetapi menjadi salah satu mesin pembangunan daerah berbasis identitas dan kreativitas masyarakat.

Kami  berupaya membuktikan bahwa kegiatan ini dapat berjalan melalui pembiayaan keluarga Wayang Ajen dan dukungan para simpatisan. Yang kami harapkan dari pemerintah adalah keseriusan dalam memajukan kebudayaan dan atraksi wisata budaya masyarakat,  kehadiran, pengakuan, apresiasi, fasilitasi, jejaring, dan keberpihakan kebijakan serta program yang berdampak, bermanfaat, dan berkelanjutan. Sebab pemerintah bukan hanya administrator anggaran. Pemerintah juga memiliki fungsi sebagai orkestrator ekosistem pembangunan. Ketika masyarakat sudah bergerak, seniman sudah berkarya, anak-anak sudah belajar, komunitas sudah berinvestasi, dan potensi wisata budaya sudah mulai tumbuh, maka pemerintah seharusnya hadir untuk memperkuat ekosistem tersebut.

Sebaliknya Pemerintah yang bijak bukan mengambil alih. Bukan pula selalu menunggu proposal. Tetapi menghubungkan, memperkuat, memfasilitasi, dan membuka jalan agar inisiatif masyarakat dapat berkembang menjadi kekuatan pembangunan daerah yang berdampak, bermanfaat, dan berkelanjutan dimasyarakat.

Pesan untuk Generasi Muda

Kepada para dalang cilik, dalang remaja, dan para penari yang telah tampil, saya ingin menyampaikan: Jangan pernah merasa bahwa budaya adalah sesuatu yang kuno. Budaya adalah identitas. Budaya adalah energi kreativitas. Budaya adalah sumber pengetahuan. Budaya adalah modal sosial. Budaya, jika dikelola dengan kreasi, inovasi, kolaborasi, profesionalisme, serta keberanian untuk beradaptasi, juga dapat menjadi sumber ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kalian bukan hanya sedang belajar memainkan wayang. Kalian sedang belajar menjadi generasi yang memiliki akar budaya. Sebab bangsa yang kehilangan akar budayanya akan mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan zaman.

Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, anak-anak tidak hanya perlu akrab dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Mereka juga harus tumbuh dengan kecerdasan sejati dalam menghadapi kecepatan informasi dan peralihan teknologi secara global. Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat manusia dan kebudayaan, bukan membuat generasi kehilangan akar identitasnya.

Dari Panggung Kecil Menuju Ekosistem Besar

Parade Dalang Cilik dan Remaja Wayang Ajen Junior adalah sebuah contoh kecil. Tetapi dari sesuatu yang kecil inilah ekosistem besar dapat dibangun. Kami tidak ingin Wayang Ajen Diversity hanya menjadi tontonan. Kami ingin Wayang Ajen menjadi ruang pendidikan, ruang regenerasi, ruang kreativitas, ruang pemberdayaan, ruang diplomasi budaya, dan ruang pertumbuhan ekonomi kreatif. Karena itu, pesan saya sederhana: “Jika masyarakat sudah bergerak membangun kebudayaan, jangan biarkan mereka berjalan sendirian. Pemerintah tidak harus selalu menjadi penyandang dana, tetapi pemerintah harus hadir sebagai penguat ekosistem.”

Dan akhirnya, kami percaya: Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun dari gedung-gedung tinggi, jalan tol, teknologi digital, dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia Emas juga dibangun dari anak-anak yang berkarakter, masyarakat yang bergotong royong, kebudayaan yang hidup, dan kreativitas lokal yang mampu menghasilkan nilai tambah. Dari panggung kecil, menyala api peradaban budaya. Sukamelang Nyongcolang. Subang Ngabret. Jabar Istimewa. Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur. Kami ingin menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia masih hidup dan generasi mudanya siap melanjutkannya.

Apresiasi dan Terima Kasih

Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan kepada seluruh pendukung terselenggaranya acara ini, khususnya: Bapak H. Asep Haelusna, M.M., Owner ASSTRO Grup; Bapak Dr. H. Ricky Hermayanto, M.Par., Owner Sauyunan Production; Bapak Prof. Dr. KH. Geovani Vanrega, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Kasyaf Cileunyi, Kabupaten Bandung;  Bapak Dr. KH. Maman Imanulhak, M.M., Pendiri dan Pengasuh Pesantren Al Mizan Jatiwangi, Majalengka; Bapak Dr. Dadam Mahdar, M.Hum.; Bapak Agung Hata Capolaga; Bapak Sumardi, S.STP.,M.AP. Camat Subang dan Ibu Ida  Erlinda SE. M.Si., M.Tr. Par. Sekretaris Camat Subang, Bapak Anas Hamzah, S.AN  Lurah Sukamelang , Pak Ading, Ketua RW 05; para ketua RT; serta seluruh masyarakat Sukamelang, Subang, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan ini.

Semoga ikhtiar kecil ini menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar: menjadikan kebudayaan bukan sekadar warisan yang kita banggakan, tetapi kekuatan yang kita hidupkan, kembangkan, dan wariskan kepada generasi berikutnya.

Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.
(Ki Dalang Wawan Ajen)
Pelaku Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif | Penggagas Wayang Ajen Diversity

Exit mobile version